Senin, 16 April 2012

TERPENCIL NAMUN SEJUTA POTENSI

Ketika mentari memunculkan sinarnya, lembah dan dataran tinggi yang ditumbuhi tumbuhan berwarna hijau nampak terlihat lebih asri. Pepohanan, aliran air, juga suara-suara hewan yang menyatu dengan alam selalu terhidang ketika mata mulai terbuka setelah istirahat panjang. Udara sejuk ditambah embun pagi menemani disaat secangkir kopi di sruput menghangatkan tubuh sambil menikmati bumbu alami desa.
Saat itu kami berada disana, mencicipi pesona keindahan alam yang tersaji. Mulai dari mata air "mangin", sumber mata air dari pegunungan yang  selama ini hanya dimanfaatkan bagi warga sekitar untuk pengairan saja, padahal di mata air tersebut mempunyai potensi luar biasa untuk tempat pariwisata. Seperti kolam pemancingan yang disekitarnya bisa ditambah ornamen-ornamen guna menambah indah serta kenyamanan. Tidak cuma itu, desa terpencil namun terletak strategis itu juga memiliki potensi lain. Lorodan semar, seperti yang telah diulas pada slide sebelumnya bahwa potensi di lorodan semar juga tak kalah strategis dan berpeluang besar sebagai tempat investasi.
Disamping potensi ekonomis, ternyata desa tersebut memendam kekayaan yang tak ternilai harganya. Kekayaan itu ialah situs sejarah dari peninggalan zaman pewayangan dimana terletak peristirahatan terakhir seorang ksatria yang digdaya dan berilmu tinggi. Menurut mitos, ksatria itu dikenal dengan nama Mintorogo yang merupakan nama lain dari Arjuna. Salah satu dari Pandawa Lima yang terkenal akan sakti mandraguna dan ketampanannya di dunia pewayangan. Peristirahatn terakhir Arjuna konon berubah menjadi pohon besar dan muncul mata air disebelah pohon tersebut yang bisa berubah warna menjadi putih. Apabila air tersebut saat berubah warna putih yang asal mulanya bening, dipercaya warga untuk sebagai obat mujarab buat mengobati segala macam penyakit.
Pengalaman yang saya dapatkan bersama teman-teman dari sebuah desa kecil yang hanya relatif sangat singkat mengajarkan bahwa di negara kita mempunyai kekayaan alam dan historis yang tak ternilai harganya. Namun yang paling memilukan adalah ketidak jelian pemerintah akan sejuta potensi tersebut, yang apabila dikelola dengan baik akan dapat meningkatkan kesejahteraan warga sekitar dan selain itu juga dapat menambah pemasukan bagi pendapatan daerah.
Oleh karena itu, pemerintah desa berinisiatif membuka pintu bagi investor untuk melihat dan menanamkan modalnya untuk membantu dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Apabila membutuhkan informasi secara detail, bisa menghubungi Supri di 085226333659

                                                                                                                   team KKN UMK 2011/2012

Kamis, 29 Maret 2012

P E S O N A D R O J O G-A N S E M A R

   

Drojog-an Semar merupakan salah satu warisan budaya yang di miliki oleh desa Slungkep, kecamatan Kayen, kabupaten Pati. Tempat yang konon katanya merupakan petilasan seorang tokoh pewayangan yaitu Semar menggunakan tempat ini untuk bertapa mencari kesaktian. Tempat yang berbentuk seperti air terjun itu mempunyai pemandangan yang menakjubkan dan tak kalah hebat dengan pemandangan dari tempat lain. Disamping itu juga batu-batuan menambah eksotis pemandangan yang masih asri nan alami.
Secara ekonomis tempat ini mempunyai potensi yang besar, karena memiliki potensi pariwisata yang begitu besar. Selain itu juga lokasi yang strategis merupakan faktor penting, dimana desa Slungkep berbatasan dengan desa lain seperti Sumber Sari, Duren Sawit, Purwokerto dan dekat dari jalur utama akses menuju desa lainnya.
Untuk itu diharapkan ada pihak ke 3 untuk membantu mengembangkan potensi alam Drojog-an Semar menjadi tempat pariwisata yang memiliki daya tarik, sehingga membantu perkembangan perekonomian masyarakat sekitar.

Bagi yang menginginkan informasi lebih lanjut, bisa menghubungi Supri di 085226333659.


Senin, 09 Januari 2012

SEJARAH DESA SLUNGKEP DI KAYEN PATI


Dalam cerita legenda pewayangan terjadinya desa Slungkep yaitu aslupnya Begawan Mintorogo  di sumber kedung srengenge  dijuluki Sumber  Gempol. Dalam bahasa Jawa aslup berarti hilang, dan aslupe Mintorogo berarti tempat peristirahatan yang terakhir oleh Begawan Mintorogo. Oleh sebab itu Sumber  Gempol itu dijadikan  punden bagi masyarakat Slungkep yang sekarang masih dikeramatkan dan masih dibanggakan bagi warga Slungkep. Setiap tanggal 1 Sura banyak orang yang mempertebal ilmu Jawa, dia bertirakat disitu pada malam harinya. Sampai sekarang orang yang punya hajat pasti hajatan disitu dan apabila menanggap wayang dia tidak pernah mengambil lakon yang ada sangkut pautnya Begawan Mintorogo atau Baratayuda sebab akan terjadi pertumpahan darah. Begawan Mintorogo itu cucu dari Betara surya yang mempunyai sifat merelakan dirinya untuk berkorban demi kawulanya. Selain itu Slungkep mempunyai pahlawan yang sangat dibanggakan sampai  tetap tanggal 17 Agustus diperingati semua warga kecamatan Kayen yang namanya Raden Soleman. Beliau adalah keturunan raja Ngayogyakarta, setiap tanggal 17 itu saudaranya  dari Jogjakarta pasti berziarah dimakam Raden Soleman, yang pada saat itu Raden Soleman bertugas di desa Slungkep tapi naas bagi mereka pada waktu malam didatangi Alose ( pibumi yang menjadi  tent ara Belanda ) dia tertangkap tapi pada waktu perjalanannya melewati jembatan bamboo, karena jembatan bambu di pijak kaki berbunyi dikira raden Soleman lari sehingga ditembak oleh Alose, dan Raden Soleman gugur yang kemudian dimakamkan di dukuh  Dlubang, desa Slungkep, Pati.